Aku dan Para Lelaki Penebang Liar (bagian 1)
Posted by umarbakri on April 24, 2007
Mereka yang mengantungkan hidupnya dari kayu-kayu liar ini adalah kumpulan Orang-Orang Banjar, Jawa, Bugis dan beberapa Orang Cina yang menjadi pemilik beberapa sawmill yang ada di tempat itu. Pak Anton salah satu Orang Cina yang mengelola sawmill di tempat itu, ia mengaku berasal dari Sumatera. Baru dua tahun ia mengelola sawmillnya. Karena kebaikan Pak Anton, akhirnya pada suatu pagi aku bisa ikut salah satu truk yang akan mengambil kayu dari hutan.
Di kaca depan truk tersebut terdapat tulisan COOL BOY yang di tempel dengan menggunakan kertas mengkilat. Tidak ada plat nomor, baik di depan maupun di belakang. Penutup bak bagian belakang di buka dan diikatkan ke samping. Di kedua sisi bak terdapat dua balok besar memanjang keatas. Empat orang laki-laki usia kira-kira dua puluhan berdiri di bak tersebut. Aku duduk di samping sopir.
Truk itu meninggalkan perkampungan sawmill itu tepat pukul setengah sembilan pagi. Dua ratus meter kemudian terdapat pos yang di jaga oleh satu orang laki-laki.
“itu pos untuk apa” tanyaku pada si sopir
Si sopir menjelaskan bahwa pos itu untuk menghitung truk yang masuk ke perkampungan sawmill. Setiap truk yang masuk harus membayar. Laki-laki yang menjaga tersebut adalah warga desa yang diperkerjakan oleh kepala desa untuk mencatat semua truk yang masuk. Selanjutnya pemilik truk-truk tersebut harus membayar sejumlah uang sesuai dengan berapa kali truk-truk itu mengangkut kayu dari hutan.
“uang itu katanya untuk perbaikan jalan” kata si sopir.
Truk terus melaju dengan kecepatan tidak lebih dari lima puluh kilometer per jam. Kemudian truk itu melewati jalan-jalan sempit, kanan-kirinya hanya di penuhi semak belukar. Tidak nampak ada pohon-pohon besar. Truk itu terus memasuki jalan-jalan yang lebih sempit, turunan yang curam dan tanjakan yang terjal. Akhirnya truk itu sampai pada dataran yang cukup luas, rata sepertinya bekas traktor berputar-putar. Di sekitarnya banyak batang-batang pohon yang telah rebah. Di salah satu batang pohon tersebut seorang laki-laki yang memakai kaos tanpa lengan sedang duduk. Truk berhenti. Laki-laki tersebut menghampiri si sopir.
“Di mana” tanya si sopir pada laki-laki itu
“Masuk kedalam lagi’ jawabnya. Kemudian laki-laki naik ke bak mobil bergabung bersama empat laki-laki yang lain.
Truk kembali berjalan, dan melewati jalan-jalan yang sempit lagi. Tak lama kemudian terdengar suara dari para lelaki yang ada di bak belakang meminta sopir truk berhenti. Laki-laki yang memakai kaos tanpa lengan turun dan menghampiri si sopir.
“di sini” kata laki-laki itu.
Semua penumpang dan sopir turun. Mesin truk masih menyala. Aku berjalan kearah pohon yang berada tidak jauh dari truk itu berhenti. Para laki-laki yang lain berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Si sopir menunjukkan satu tempat, kemudian para laki-laki itu berkumpul tidak jauh dari tempat yang dimaksud oleh si sopir. Aku tidak berkumpul bersama mereka. Aku masih berada di bawah pohon itu, menghadap ke arah batangnya, membuka resleting celananya. Beberapa saat kemudian terdengar suara gemericik air.
Si Sopir telah kembali ke belakang kemudi. Bersiap-untuk menjalankan truknya. Aku buru-buru mengangkat celana. Truk perlahan mundur mendekati tempat di mana para laki-laki itu berkumpul.
‘Aduh! teriakku dari bawah pohon. Ujung rudal biologisku terjepit resleting celana. Si sopir menghentikan truknya.
“Ada apa pak” tanya si sopir kepadaku.
“nggak apa apa”
BERSAMBUNG…
Bocah Alas said
makanya punya rudal jangan kegedean, sering dirawat don, jangan dibiarkan karatan bisa-bisa meletus sendiri….
golog said
laa itu, sebaiknya segera cari orang yang bisa ngemong dirimu bos, sekalian dengan rudalmu juga. segera cari!